Biaya Produksi Melonjak, Harga Beras Anjlok: Petani Malaka Barat Terjepit, Lahan Tidur Makin Meluas
Isi Berita:
Tahun 2026 membawa beban berat bagi ribuan petani sawah di wilayah Malaka Barat, khususnya di Desa Motaulun, Naas, dan Maktihan. Di tengah biaya bertani yang terus meroket, harga jual beras justru turun tajam dari standar Rp12.000 menjadi hanya Rp11.000 per kilogram — bahkan ada yang hanya ditawar Rp10.500 per kg.
Tekanan ekonomi ini terasa sangat menyakitkan jika dibandingkan dengan pengeluaran yang harus ditanggung petani:
✅ Harga pupuk subsidi: Rp115.000 per karung ongkos angkut,obat obatan lain belum terhitung.
✅ Bensin naik dari Rp13.000 menjadi Rp15.000 per liter
✅ Upah tenaga kerja tanam, pemerilharaan ,panen: Rp70.000–Rp100.000 per hari per orang
Hasil perhitungan sederhana menunjukkan biaya produksi kini lebih besar daripada harga jual beras. Artinya: setiap kali petani menanam, mereka justru merugi. Kondisi ini didorong oleh praktik penentuan harga yang tidak adil di tingkat penampung, membuat petani tidak punya posisi tawar.
Akibatnya, banyak warga memilih menghentikan pengolahan sawah. Lahan tidur pun bertambah luas, karena petani tidak sanggup membiayai usaha tani sekaligus mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Jika dibiarkan, ketahanan pangan daerah bisa terancam.
Kami meminta Bupati Malaka dan segenap anggota DPRD Malaka segera mengambil langkah nyata:
1. Tetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang layak dan sesuai biaya produksi
2. Segera susun dan terbitkan Peraturan Daerah (PERDA) yang melindungi harga jual hasil panen
3. Berikan sanksi tegas bagi pelaku praktik penekanan harga yang merugikan petani
Beras bukan sekadar komoditas dagang — ia adalah nyawa ketahanan pangan dan harapan hidup petani. Jangan biarkan mereka bekerja keras justru jatuh miskin.





